Namun, sakit perut itu sebenarnya masalah atau gejala? Masalah adalah akar penyebab terjadinya sakit / tidak sehat. Gejala adalah efek yang timbul akibat badan kita tidak sehat. Apa jadinya jika sakit perut itu hanya gejala, sedangkan masalah utamanya adalah munculnya bibit kanker di dalam usus kita? Tanpa disadari, sudah berapa lama kita abaikan masalah yang kita salah kira itu?
Mengapa
orang memilih minum obat maag dan tidak memilih untuk pergi ke dokter?
Alasannya: Cepat, murah, dan mudah. Keputuhan hanya didasarkan kepraktisan bukan? Sekarang jaman sudah instan
Analogi inilah yang terjadi di dalam perekonomian Indonesia. Contoh: Kedelai. Siapa yang tidak tahu bahwa kedelai adalah bahan baku makanan rakyat kita? Tempe. Semua suka tempe bukan? Tetapi mengapa harga tempe naik alasannya karena impor kedelai naik?
Karena Indonesia tidak mampu memproduksi kedelai sebanyak kebutuhan rakyatnya. (Rakyat banyak adalah aset bangsa) Kalau tidak salah hanya 40% dari total kebutuhan kedelai yang dapat dipasok oleh petani lokal. Sisanya dipenuhi dengan impor kedelai. Persamaan dari sakit perut di atas adalah:
- Impor kedelai = solusi = minum obat
- Pasokan petani lokal kurang= gejala = sakit perut
Apa masalah dari kedelai ini? Apakah lahan pertanian kurang digarap serius? Yang
jadi petani sedikit? Rugi menjadi petani kedele? Lahan dijual & dipakai
untuk industri?
Masalah
kedele dan masalah sakit perut contoh di atas memiliki kesamaan bukan? Yakni untuk memperbaiki masalah butuh biaya lebih besar & mahal, waktu lebih banyak tersita, dan repot. Tidak instan.
Kedelai
hanya 1 dari sekian banyak masalah. Beras, Buah, Minyak, dll. Inilah yang
menjadi permasalahan dalam Ekonomi Indonesia, dimana budaya instan menjamur. Kebutuhan vital jangka panjang diambil
menggunakan solusi instan.
Salahkah kebijakan Instan? TIDAK.
Kita tetap butuh kebijakan jangka pendek, menengah, dan panjang. Karena ketika
ada masalah kita perlu menanganinya dengan segera. Tetapi sejalan dengan itu, harus ada kegiatan paralel antara solusi jangka pendek
dan jangka panjang.
- Minum obat dulu, jika sakit berlanjut hubungi dokter bukan?
- Impor dulu, kalau diperkirakan pasokan masih tetap kurang dalam jangka panjang, perluas lahan pertanian bukan?
- Kota Jakarta terus berkembang, segera bangun perkantoran dulu untuk menampung tenaga kerja (sudah terjadi). Jangan lupa Jakarta akan semakin padat, bangun infrastruktur untuk jangka panjang.
Ketika ada
masalah, dibutuhkan tindakan jangka pendek untuk solusinya. Tetapi selalu
rencanakan kebijakan jangka panjang agar masalah jangka pendek tadi tidak perlu kembali muncul.
Pemimpin
yang mampu mencari solusi seperti ini yang diharapkan dapat membawa Indonesia lebih maju dari kondisi saat ini.
Jika tidak
ada perbaikan, apa akibatnya?
- Ekspor selalu kalah dari impor
- Neraca perdagangan selalu negatif
- Nilai Rupiah akan terus melorot
- Daya beli masyarakat yang sudah tinggi yang seharusnya menjadi motor penggerak perekonomian malahan tergerus daya belinya oleh inflasi yang tinggi (sami mawon)
Rupiah
adalah indikator terbaik melihat
foreign out/in flow di
Indonesia. Jadi ketika Rupiah kembali menguat dengan konstan, maka akan
terlihat optimisme di pasar. Ingat, pasar finansial bergerak lebih cepat dari riil sekitar 3 – 6
bulan lebih awal. Jangan tunggu
berita baik muncul baru bereaksi, tapi lihat pergerakan harga / pasar.
Disusun Oleh:
Nama: Fadly Khairul Ikhwan
Kelas: 1EB12 (23214769)