Rabu, 01 Juli 2015

DAMPAK POSITIVE DARI MELEMAHNYA KURS RUPIAH BAGI PEREKONOMIAN INDONESIA

Bank Indonesia merilis Rabu 27/03/2015 menyebutkan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dollar AS kian melemah sehingga mencatat sejarah baru bagi Indonesia sejak krisis tahun 1998. Nilai tukar rupiah berada pada posisi kurs jual 13,129.00 dan kurs beli 12,999.00 per dollar AS. Kepala Riset Reksa dana Sekuritas Helmy Kristanto mengatakan bahwa terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah, pemerintah tidak melihat urgensi Bank Indonesia untuk mengintervensi pasar. Nilai tukar rupiah yang berubah-ubah dan tidak stabil sangat mempengaruhi keadaan ekonomi makro Indonesia.
Secara garis besar terdapat tiga variabel yang mempengaruhi ekonomi makro Indonesia yaitu, varibel pertama berhubungan dengan nilai tukar rupiah adalah keseimbangan permintaaan dan penawaran terhadap mata uang dalam Negeri maupun mata uang asing. Merosotnya nilai tukar rupiah merefleksikan menurunnya permintaan masyarakat terhadap rupiah karena menurunnya peran perekonomian nasional atau karena meningkatnya nilai mata uang asing sebagai alat pembayaran internasional sehingga biaya impor mengalami kenaikan. Variabel kedua adalah tingkat suku bunga dan variabel ketiga terjadinya inflasi. Tekanan depresiasi terhadap rupiah harus diimbangi dengan instrumen kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk mestabilkan nilai tukar rupiah.

Akibat Nilai Tukar Melemah
Melemahnya nilai tukar rupiah yang terus berubah-ubah menjadi masalah bagi Indonesia, yaitu mengakibatkan menurunya kesejahteraan masyarakat. Bagi pelaku bisnis yang berbasis impor dengan pasar domestik. Bagaimana tidak menjadi masalah, ketika terjadi nilai rupiah yang melemah membuat terjadinya ketimpangan pada barang-barang ekspor dan perusahaan yang berorientasi pada bahan baku impor. Dimana barang-barang ekspor Indonesia lebih berdaya saing, namun disisi lain biaya menjadi tinggi terlebih biaya dari perusahaan yang berhutang dalam dollar AS atau menggunakan bahan baku impor. Hal tersebut dapat menggambarkan terdapat dampak positif dan dampak negatif yang terjadi ketika nilai tukar rupiah melemah. Bagi pelaku bisnis yang berbasis impor dengan berorientasi pada pasar domestik, melemahnya nilai tukar rupiah berdampak terhadap meningkatnya biaya produksi. Apabila kondisi ini terjadi dalam kurun waktu yang lama, maka akan berdampak langsung pada penurunan nilai perusahaan. Jumlah industri yang berorientasi pada bahan baku impor sangat banyak, bahkan dominan dalam struktur industri nasional. Pada level pasar, harga produk akan disesuaikan dengan cara menaikkan harga. Posisi ini berimplikasi pada indikator stabilitas ekonomi makro, yaitu inflasi.
Misalnya, Perusahaan farmasi merupakan salah satu perusahaan yang terkena dampak kenaikan harga dalam dollar AS karena membeli bahan baku dalam dollar AS dan menjual produk dalam rupiah. Secara umum, daya beli masyarakat juga akan menurun karena kenaikan harga. Jika daya beli masyarakat menurun maka laba yang diperoleh produsen kecil. Namun keadaan tersebut berbanding terbalik bagi para pelaku bisnis yang berorientasi ekspor baik dalam skala besar maupun menengah, termasuk UMKM kerajinan, komoditas ekspor minyak kelapa sawit (CPO), kakao, teh, kopi, dan furniture. Melemahnya nilai tukar rupiah menjadi rejeki nomplok dalam mengungkit daya saing produk ekspor dari sisi harga yang menjadi lebih kompetitif. Namun, struktur produksi di Indonesia mayoritas menggunakan bahan baku impor, maka terjadi ketidakstabilan nilai tukar.

Rezeki Nomplok Melemahnya Nilai Tukar Rupiah
Rezeki yang diterima Indonesia saat terjadi pelemahan nilai tukar rupiah adalah peningkatan ekspor terhadap barang-barang yang berorientasi ekspor. Riset yang dilakukan Adella Bachtiar, FE UI tahun 2010, menunjukkan bahwa sampai saat ini subsektor yang dapat di andalkan untuk memberikan sumbangan bagi devisa Negara adalah dari komoditas subsektor perkebunan. Kontribusi yang cukup besar dari CPO dapat dilihat dari pertumbuhan ekspornya. Indonesia tercatat menjadi pemasok CPO terbesar di Dunia dengan total produksi sebesar 21,14 juta ton. Untuk konsumsi dalam negeri sebesar 4,86 juta ton dan sisanya sebesar 16,28 juta ton untuk ekspor. Total ekspor CPO Indonesia menyumbang porsi sebesar 11,3 % terhadap total ekspor Indonesia. Pertumbuhan eskpor non migas pada tahun 2008 mencapai USD 107,8 M, dimana total ekpor CPO memberi kontribusi sebesar 14,47% dari total ekspor non migas Indonesia.
Peningkatan ekspor dapat menambah devisa yang pada akhirnya memperkuat nilai tukar rupiah. Kontribusi ekspor yang positif disebabkan oleh peningkatan permintaan ekspor, sebagai akibat kecenderungan mengkonsumsi barang-barang ekspor. Peningkatan konsumsi ekpor terjadi karena konsumsi masyarakat luar negeri terhadap barang-barang ekspor. Tingkat permintaan yang tinggi terhadap komoditas ekspor juga harus dibarengi dengan kualitas sehingga mampu bersaing dengan yang lain. Misalnya, Indonesia harus lebih memperhitungkan daya saing dalam kegiatan perdagangan internasional. Karena kebijakan perdagangan dipengaruhi oleh kebijakan nilai tukar. Pergerakan nilai tukar sangat berpengaruh terhadap perkembangan sektor rill dan moneter Indonesia. Pengaruh melemahnya nilai tukar rupiah membuat harga relatif komoditas ekspor Indonesia di pasar Dunia menjadi rendah. Hal tersebut yang menyebabkan volume ekspor Indonesia di pasaran Dunia meningkat.

Oleh karena itu, rupiah melemah rezeki bagi Indonesia. Terlihat jelas bahwa peningkatan ekspor menunjukkan dampak positif sehingga Indonesia memperoleh rezeki nomplok, yaitu surplus devisa. Realitanya pelemahan nilai tukar secara keseluruhan tidak selalu memberikan dampak yang negative bagi perekonomian Indonesia. Pelaku bisnis yang berorientasi ekspor sangat di untungkan sekali ketika nilai tukar rupiah terus melemah dan posisi dollar selalu melemah.

MENJAGA STABILITAS PEREKONOMIAN DI INDONESIA DI TENGAH KRISIS POLITIK DI MESIR

Upaya Indonesia dalam menjaga stabilitas perekonomian nasionalnya semakin berat. Betapa tidak, krisis politik di Mesir belakangan ini ternyata berimbas kepada meningkatnya harga minyak mentah  dunia. Harga minyak mentah jenis brent misalnya telah menembus angka 107,27 dollar Amerika per barel.

Pada saat yang bersamaan juga terjadi peningkatan inflasi yang tinggi mendekati angka  7 persen akibat berbagai harga barang dan jasa yang meningkat menjelang bulan puasa dan  hari Raya Idul Fitri. Padahal sasaran inflasi yang ditetapkan pemerintah tahun 2013 sebesar 4,5 persen dengan deviasi satu persen.

Disamping melemahnya nilai tukar rupiah dan untuk sementara terjadi juga  pelambatan  pertumbuhan ekonomi Indonesia. Nilai tukar rupiah kemarin kembali menembus angka mendekati Rp 10.000.- per satu dolar Amerika.

Meningkatnya harga minyak dunia selain memberi sentimen negatif, namun  sebetulnya dapat memberikan  berkah juga  pada menaiknya  harga komoditas gas dan batubara yang dapat menyumbangkan peningkatan nilai ekspor Indonesia.
Neraca dagang Indonesia yang masih minus dalam beberapa bulan terakhir ini dan berkurangnya cadangan devisa negara perlu diwaspadai untuk menjaga jangan sampai terjadi  pelemahan nilai rupiah.

Tekanan rupiah terakhir ini diakui Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardoyo bahwa lebih disebabkan karena terjadi penarikan dana asing jangka pendek atau hot money dari pasar keuangan yang bersumber dari saham dan obligasi.

Sepanjang bulan Juni saja terjadi penarikan dana asing sekitar dua miliar dolar Amerika dari pasar saham dan 1,9 miliar dolar Amerika dari Surat Utang Negara. Sementara itu, cadangan devisa sekitar 98 miliar dolar amerika masih cukup aman untuk menjaga stabilitas nilai rupiah.

Melemahnya rupiah sampai di posisi Rp 10.000,- per satu dolar Amerika masih dinilai cukup wajar, sebab kondisi ini terjadi lebih dari akibat faktor global dan tidak hanya rupiah yang turun, namun juga sejumlah mata uang asing lainnya.

Dari jumlah cadangan devisa tersebut masih cukup untuk mendanai lebih dari lima bulan impor dan pembayaran utang luar negeri. Ini berarti pula perekonomian nasional Indonesia masih jauh dari resiko krisis. Kecuali jika sisa cadangan devisa hanya untuk tiga bulan, maka Pemerintah dan Bank Indonesia harus waspada, kata sejumlah analisis.

Sedikitnya ada sembilan langkah yang sedang berjalan dan  harus diambil saat ini adalah 
  • pertama:  bagaimana Pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak, dengan meningkatkan iklim investasi di sektor pertambangan;
  • Kedua: meningkatkan kepercayaan publik dengan membenahi dan mengaudit Pertamina 
  • Ketiga: Penghapusan ekonomi biaya tinggi, memperbaiki infrastruktur  dan penyederhanaan rantai perijinan agar investor asing datang;
  • Keempat: Tindak tegas pengusaha yang menggeser kenaikan harga BBM dengan menaikkan harga secara tidak wajar dan tidak didukung data yang akurat;
  • Kelima: Laksanakan pengendalian harga kebutuhan pokok, sehingga tidak memberatkan konsumen miskin dan kalangan petani sebagai produsen;
  • Keenam: pengalihan subsidi BBM ke arah yang bersifat lebih produktif, seperti program padat karya, pengembangan dan peningkatan UMKM, pendidikan dasar dan kesehatan;
  • Ketujuh: Pelaksanaan BLSM supaya hanya bersifat darurat diarahkan kepada kelompok usia non produktif di atas 60 tahun yang miskin sebagai jaminan sosial, sedangkan kelompok usia produktif diarahkan untuk berusaha dan bekerja;
  • Kedelapan: Harus ada Kajian dan sosialisasi jika melakukan pencabutan subsidi, dengan memperhatikan faktor sosial dan politik serta dengan argumentasi yang kuat;
  • Kesembilan: lanjutkan pemberantasan korupsi dan penegakan hukum.
Dengan semua langkah tersebut, kita yakin dan optimis pertumbuhan perekonomian nasional Indonesia akan tetap tinggi dan tidak akan mengalami krisis

Kamis, 30 April 2015

Kondisi Masyarakat Dan Perekonomian Indonesia Saat Ini

Jika fisik kita kurang sehat, perut merasa sakit melilit, apa yang kita bayangkan? Sakit Maag mungkin. Apa yang kita lakukan? Minum obat maag. Jika masih sakit, apa yang dilakukan? Terus minum obat maag hingga sembuh. Dan akhirnya kita sembuh. Suatu saat kita sakit perut lagi, apa yang kita lakukan? Tentu minum obat maag lagi bukan? Karena terbukti obat maag dapat menyelesaikan masalah yang kita alami. Setuju? Hal ini dilakukan bertahun – tahun ketika kita mengalami sakit perut. Jadi, masalahnya adalah: Sakit Perut. Solusinya adalah: Obat maag.

Namun, sakit perut itu sebenarnya masalah atau gejala? Masalah adalah akar penyebab terjadinya sakit / tidak sehat. Gejala adalah efek yang timbul akibat badan kita tidak sehat. Apa jadinya jika sakit perut itu hanya gejala, sedangkan masalah utamanya adalah munculnya bibit kanker di dalam usus kita? Tanpa disadari, sudah berapa lama kita abaikan masalah yang kita salah kira itu?
Mengapa orang memilih minum obat maag dan tidak memilih untuk pergi ke dokter? Alasannya: Cepat, murah, dan mudah. Keputuhan hanya didasarkan kepraktisan bukan? Sekarang jaman sudah instan

Analogi inilah yang terjadi di dalam perekonomian Indonesia. Contoh: Kedelai. Siapa yang tidak tahu bahwa kedelai adalah bahan baku makanan rakyat kita? Tempe. Semua suka tempe bukan? Tetapi mengapa harga tempe naik alasannya karena impor kedelai naik?

Karena Indonesia tidak mampu memproduksi kedelai sebanyak kebutuhan rakyatnya. (Rakyat banyak adalah aset bangsa) Kalau tidak salah hanya 40% dari total kebutuhan kedelai yang dapat dipasok oleh petani lokal. Sisanya dipenuhi dengan impor kedelai. Persamaan dari sakit perut di atas adalah:
  1. Impor kedelai = solusi = minum obat
  2. Pasokan petani lokal kurang= gejala = sakit perut
Apa masalah dari kedelai ini? Apakah lahan pertanian kurang digarap serius? Yang jadi petani sedikit? Rugi menjadi petani kedele? Lahan dijual & dipakai untuk industri?
Masalah kedele dan masalah sakit perut contoh di atas memiliki kesamaan bukan? Yakni untuk memperbaiki masalah butuh biaya lebih besar & mahal, waktu lebih banyak tersita, dan repot. Tidak instan.
Kedelai hanya 1 dari sekian banyak masalah. Beras, Buah, Minyak, dll. Inilah yang menjadi permasalahan dalam Ekonomi Indonesia, dimana budaya instan menjamur. Kebutuhan vital jangka panjang diambil menggunakan solusi instan.


Salahkah kebijakan Instan? TIDAK. Kita tetap butuh kebijakan jangka pendek, menengah, dan panjang. Karena ketika ada masalah kita perlu menanganinya dengan segera. Tetapi sejalan dengan itu, harus ada kegiatan paralel antara solusi jangka pendek dan jangka panjang.
  1. Minum obat dulu, jika sakit berlanjut hubungi dokter bukan?
  2. Impor dulu, kalau diperkirakan pasokan masih tetap kurang dalam jangka panjang, perluas lahan pertanian bukan?
  3. Kota Jakarta terus berkembang, segera bangun perkantoran dulu untuk menampung tenaga kerja (sudah terjadi). Jangan lupa Jakarta akan semakin padat, bangun infrastruktur untuk jangka panjang.
Ketika ada masalah, dibutuhkan tindakan jangka pendek untuk solusinya. Tetapi selalu rencanakan kebijakan jangka panjang agar masalah jangka pendek tadi tidak perlu kembali muncul.
Pemimpin yang mampu mencari solusi seperti ini yang diharapkan dapat membawa Indonesia lebih maju dari kondisi saat ini.
Jika tidak ada perbaikan, apa akibatnya?
  1. Ekspor selalu kalah dari impor
  2. Neraca perdagangan selalu negatif
  3. Nilai Rupiah akan terus melorot
  4. Daya beli masyarakat yang sudah tinggi yang seharusnya menjadi motor penggerak perekonomian malahan tergerus daya belinya oleh inflasi yang tinggi (sami mawon)
Rupiah adalah indikator terbaik melihat foreign out/in flow di Indonesia. Jadi ketika Rupiah kembali menguat dengan konstan, maka akan terlihat optimisme di pasar. Ingat, pasar finansial bergerak lebih cepat dari riil sekitar 3 – 6 bulan lebih awal. Jangan tunggu berita baik muncul baru bereaksi, tapi lihat pergerakan harga / pasar.


Disusun Oleh:
                         Nama: Fadly Khairul Ikhwan
                         Kelas: 1EB12 (23214769)