Pada saat yang bersamaan juga terjadi
peningkatan inflasi yang tinggi mendekati angka 7 persen akibat
berbagai harga barang dan jasa yang meningkat menjelang bulan puasa dan
hari Raya Idul Fitri. Padahal sasaran inflasi yang ditetapkan
pemerintah tahun 2013 sebesar 4,5 persen dengan deviasi satu persen.
Disamping melemahnya nilai tukar rupiah
dan untuk sementara terjadi juga pelambatan pertumbuhan ekonomi
Indonesia. Nilai tukar rupiah kemarin kembali menembus angka mendekati
Rp 10.000.- per satu dolar Amerika.
Meningkatnya harga minyak dunia selain
memberi sentimen negatif, namun sebetulnya dapat memberikan berkah
juga pada menaiknya harga komoditas gas dan batubara yang dapat
menyumbangkan peningkatan nilai ekspor Indonesia.
Neraca dagang Indonesia yang masih minus
dalam beberapa bulan terakhir ini dan berkurangnya cadangan devisa
negara perlu diwaspadai untuk menjaga jangan sampai terjadi pelemahan
nilai rupiah.
Tekanan rupiah terakhir ini diakui
Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardoyo bahwa lebih disebabkan karena
terjadi penarikan dana asing jangka pendek atau hot money dari pasar
keuangan yang bersumber dari saham dan obligasi.
Sepanjang bulan Juni saja terjadi
penarikan dana asing sekitar dua miliar dolar Amerika dari pasar saham
dan 1,9 miliar dolar Amerika dari Surat Utang Negara. Sementara itu,
cadangan devisa sekitar 98 miliar dolar amerika masih cukup aman untuk
menjaga stabilitas nilai rupiah.
Melemahnya rupiah sampai di posisi Rp
10.000,- per satu dolar Amerika masih dinilai cukup wajar, sebab kondisi
ini terjadi lebih dari akibat faktor global dan tidak hanya rupiah yang
turun, namun juga sejumlah mata uang asing lainnya.
Dari jumlah cadangan devisa tersebut
masih cukup untuk mendanai lebih dari lima bulan impor dan pembayaran
utang luar negeri. Ini berarti pula perekonomian nasional Indonesia
masih jauh dari resiko krisis. Kecuali jika sisa cadangan devisa hanya
untuk tiga bulan, maka Pemerintah dan Bank Indonesia harus waspada, kata
sejumlah analisis.
Sedikitnya ada sembilan langkah yang
sedang berjalan dan harus diambil saat ini adalah
- pertama: bagaimana Pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak, dengan meningkatkan iklim investasi di sektor pertambangan;
- Kedua: meningkatkan kepercayaan publik dengan membenahi dan mengaudit Pertamina
- Ketiga: Penghapusan ekonomi biaya tinggi, memperbaiki infrastruktur dan penyederhanaan rantai perijinan agar investor asing datang;
- Keempat: Tindak tegas pengusaha yang menggeser kenaikan harga BBM dengan menaikkan harga secara tidak wajar dan tidak didukung data yang akurat;
- Kelima: Laksanakan pengendalian harga kebutuhan pokok, sehingga tidak memberatkan konsumen miskin dan kalangan petani sebagai produsen;
- Keenam: pengalihan subsidi BBM ke arah yang bersifat lebih produktif, seperti program padat karya, pengembangan dan peningkatan UMKM, pendidikan dasar dan kesehatan;
- Ketujuh: Pelaksanaan BLSM supaya hanya bersifat darurat diarahkan kepada kelompok usia non produktif di atas 60 tahun yang miskin sebagai jaminan sosial, sedangkan kelompok usia produktif diarahkan untuk berusaha dan bekerja;
- Kedelapan: Harus ada Kajian dan sosialisasi jika melakukan pencabutan subsidi, dengan memperhatikan faktor sosial dan politik serta dengan argumentasi yang kuat;
- Kesembilan: lanjutkan pemberantasan korupsi dan penegakan hukum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar