Rabu, 01 Juli 2015

MENJAGA STABILITAS PEREKONOMIAN DI INDONESIA DI TENGAH KRISIS POLITIK DI MESIR

Upaya Indonesia dalam menjaga stabilitas perekonomian nasionalnya semakin berat. Betapa tidak, krisis politik di Mesir belakangan ini ternyata berimbas kepada meningkatnya harga minyak mentah  dunia. Harga minyak mentah jenis brent misalnya telah menembus angka 107,27 dollar Amerika per barel.

Pada saat yang bersamaan juga terjadi peningkatan inflasi yang tinggi mendekati angka  7 persen akibat berbagai harga barang dan jasa yang meningkat menjelang bulan puasa dan  hari Raya Idul Fitri. Padahal sasaran inflasi yang ditetapkan pemerintah tahun 2013 sebesar 4,5 persen dengan deviasi satu persen.

Disamping melemahnya nilai tukar rupiah dan untuk sementara terjadi juga  pelambatan  pertumbuhan ekonomi Indonesia. Nilai tukar rupiah kemarin kembali menembus angka mendekati Rp 10.000.- per satu dolar Amerika.

Meningkatnya harga minyak dunia selain memberi sentimen negatif, namun  sebetulnya dapat memberikan  berkah juga  pada menaiknya  harga komoditas gas dan batubara yang dapat menyumbangkan peningkatan nilai ekspor Indonesia.
Neraca dagang Indonesia yang masih minus dalam beberapa bulan terakhir ini dan berkurangnya cadangan devisa negara perlu diwaspadai untuk menjaga jangan sampai terjadi  pelemahan nilai rupiah.

Tekanan rupiah terakhir ini diakui Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardoyo bahwa lebih disebabkan karena terjadi penarikan dana asing jangka pendek atau hot money dari pasar keuangan yang bersumber dari saham dan obligasi.

Sepanjang bulan Juni saja terjadi penarikan dana asing sekitar dua miliar dolar Amerika dari pasar saham dan 1,9 miliar dolar Amerika dari Surat Utang Negara. Sementara itu, cadangan devisa sekitar 98 miliar dolar amerika masih cukup aman untuk menjaga stabilitas nilai rupiah.

Melemahnya rupiah sampai di posisi Rp 10.000,- per satu dolar Amerika masih dinilai cukup wajar, sebab kondisi ini terjadi lebih dari akibat faktor global dan tidak hanya rupiah yang turun, namun juga sejumlah mata uang asing lainnya.

Dari jumlah cadangan devisa tersebut masih cukup untuk mendanai lebih dari lima bulan impor dan pembayaran utang luar negeri. Ini berarti pula perekonomian nasional Indonesia masih jauh dari resiko krisis. Kecuali jika sisa cadangan devisa hanya untuk tiga bulan, maka Pemerintah dan Bank Indonesia harus waspada, kata sejumlah analisis.

Sedikitnya ada sembilan langkah yang sedang berjalan dan  harus diambil saat ini adalah 
  • pertama:  bagaimana Pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak, dengan meningkatkan iklim investasi di sektor pertambangan;
  • Kedua: meningkatkan kepercayaan publik dengan membenahi dan mengaudit Pertamina 
  • Ketiga: Penghapusan ekonomi biaya tinggi, memperbaiki infrastruktur  dan penyederhanaan rantai perijinan agar investor asing datang;
  • Keempat: Tindak tegas pengusaha yang menggeser kenaikan harga BBM dengan menaikkan harga secara tidak wajar dan tidak didukung data yang akurat;
  • Kelima: Laksanakan pengendalian harga kebutuhan pokok, sehingga tidak memberatkan konsumen miskin dan kalangan petani sebagai produsen;
  • Keenam: pengalihan subsidi BBM ke arah yang bersifat lebih produktif, seperti program padat karya, pengembangan dan peningkatan UMKM, pendidikan dasar dan kesehatan;
  • Ketujuh: Pelaksanaan BLSM supaya hanya bersifat darurat diarahkan kepada kelompok usia non produktif di atas 60 tahun yang miskin sebagai jaminan sosial, sedangkan kelompok usia produktif diarahkan untuk berusaha dan bekerja;
  • Kedelapan: Harus ada Kajian dan sosialisasi jika melakukan pencabutan subsidi, dengan memperhatikan faktor sosial dan politik serta dengan argumentasi yang kuat;
  • Kesembilan: lanjutkan pemberantasan korupsi dan penegakan hukum.
Dengan semua langkah tersebut, kita yakin dan optimis pertumbuhan perekonomian nasional Indonesia akan tetap tinggi dan tidak akan mengalami krisis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar